Top Stories

Grid List

Mana yang lebih Anda sukai, membuka kunci smartphone Anda dengan PIN empat digit atau dengan emoji gambar wajah tersenyum? Mana yang lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk diingat, gambar wajah dan bunga misalnya, atau sekedar angka 2476?

 

Pengguna smartphone biasa menggunakan emoji untuk mengekspresikan suasana hati, emosi dan nuansa percakapan dalam email dan pesan teks (SMS, WhatsApp, Line, BBM, dan lain sejenisnya) - dan bahkan ada pula yang mengkomunikasikan keseluruhan pesan hanya dengan emoji. Pada tahun 2015, sebuah perusahaan Inggris mencoba menggunakan kode akses emoji sebagai ganti PIN di ATM bank. Tapi tidak ada studi formal tentang seberapa mudah penggunaannya, atau seberapa aman hal tersebut dibandingkan metode lain, seperti PIN.

 

Untuk mempelajari lebih lanjut baik di laboratorium maupun di dunia nyata, tim peneliti dari Technical University (TU) Berlin, Universitas Ulm dan University of Michigan, yang dipimpin oleh Lydia Kraus, kandidat Doktor di TU Berlin, mengembangkan EmojiAuth, sebuah sistem login berbasis emoji untuk smartphone Android. Seberapa baikkah kemampuan pengguna smartphone dalam mengingat password berupa emoji? Apakah mereka merasa lebih aman? Apakah penggunaan emoji sebagai password membuat mereka merasa lebih senang setiap kali membuka kunci layar teleponnya?

 

Sebagian besar pengguna smartphone mengunci layar mereka dan harus membukanya beberapa kali dalam sehari. Banyak orang menggunakan PIN numerik, namun penelitian menyebutkan bahwa gambar lebih mudah dihafal dan diingat daripada angka atau huruf. PIN juga bisa terdiri dari sejumlah simbol: seperti angka 0 sampai 9. Password pun sebenarnya juga dapat dibuat dari sejumlah karakter lain yang ada di keypad, namun memang agak sulit untuk mengetikkannya pada smartphone. Penggunaan emoji, di sisi lain, memungkinkan kita untuk menggunakan lebih dari 2.500 emoji, yang membuat password kita lebih sulit dijebol maupun sekedar dilirik oleh orang lain.

 

Membuat password emoji

 

 

 

Dalam percobaan awal, peneliti memberikan ponsel Android kepada 53 orang peserta dan membagi mereka menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari 27 orang memilih password yang terdiri dari 12 emoji di keyboard emoji yang berlainan untuk setiap pengguna, yang diambil dari kumpulan semua ikon emoji yang bisa dipakai (sekali disetel, keyboard emoji masing-masing pengguna akan tetap sama). Sisanya yang berjumlah 26 orang memilih PIN numerik.

 

Peserta penelitian paling sering menggunakan salah satu dari tiga metode untuk memilih urutan emoji: berdasarkan pada pola pada keyboard emoji (seperti emoji yang terletak di salah satu sisi atau emoji yang berada di sudut), preferensi pribadi untuk emoji tertentu, serta membuat sebuah cerita dengan menggunakan emoji; misalnya: satu peserta memikirkan sebuah lagu tertentu dan memilih emoji yang sesuai dengan kata-kata di lagu tersebut. Setelah beberapa kali berlatih memasukkan password baru mereka, subjek diminta untuk kembali seminggu kemudian untuk memasukkan kembali password mereka ke dalam smartphone yang dipakai sebagai alat penguji.

 

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kode PIN dan password emoji sangat mudah diingat. Secara keseluruhan, lebih banyak pengguna PIN yang mengingat password mereka (mungkin karena orang sudah terbiasa menghafal PIN). Akan tetapi, orang-orang yang menggunakan password kode emoji terlihat lebih senang ketika memasukkan password mereka.

 

Penelitian di lapangan

 

 

Selanjutnya, peneliti menyelidiki bagaimana password emoji digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Pada ponsel Android yang dimiliki oleh 41 peserta, peneliti memasang layar login khusus untuk aplikasi email smartphone mereka selama lebih kurang dua minggu. Sekitar separuh dari mereka menggunakan password emoji; sisanya menggunakan PIN.

 

Sebagaimana hasil penelitian di laboratorium, pengguna yang menggunakan password emoji memilih emoji yang terpola pada keyboard, emoji yang secara pribadi memang mereka sukai, atau membuat cerita yang dianggap cocok dengan mereka.

 

Kedua kelompok pengguna tersebut, baik yang menggunakan emoji maupun yang menggunakan PIN, melaporkan bahwa password mereka mudah diingat dan digunakan. Namun password kode emoji memang lebih menyenangkan untuk dituliskan daripada password angka.

 

Keamanan tambahan

 

 

Pada akhir penelitian lapangan, peneliti menguji keamanan password emoji. Peneliti meminta peserta untuk mengintip dari balik bahu mereka ketika si peneliti memasukkan password.

 

Hasil temuan menunjukkan bahwa password emoji yang terdiri dari enam emoji yang dipilih secara acak paling sulit untuk diintip dari atas bahu pengguna. Sementara jenis password lain, seperti empat atau enam emoji dalam sebuah pola, atau empat atau enam digit angka, lebih mudah diamati dan diingat dengan benar.

 

Studi yang dipresentasikan oleh salah satu anggota tim peneliti di Roma menunjukkan bahwa password berbasis emoji tidak hanya praktis namun juga merupakan metode yang menyenangkan untuk mengingat dan melindungi password - selama pengguna tidak menggunakan emoji secara berurutan atau membentuk suatu pola tertentu pada keyboard.

 

---

 

(sumber: The Conversation | sumber gambar: TextCarrier & FunnyZone)

 

Apa yang akan terjadi jika sebuah drone terjebak dalam badai petir?

 

Itulah pertanyaan yang diajukan oleh seorang YouTuber Tom Scott ketika dia membawa dua drone DJI Phantom 3 ke Laboratorium Tegangan Tinggi Universitas Manchester. Laboratorium universitas Inggris ini mampu membuat petir buatan berkat generator yang mampu menghasilkan tegangan sebesar lebih dari 1 juta volt. Drone tidak mampu menahan hantaman petir, dan akan terbakar ketika terperangkap di tengah arus listrik.

 

Pada percobaan pertama, sebuah drone dipancangkan ke tanah (untuk memastikan drone tidak terbang keluar dari jalurnya) dan ditembak dengan lebih dari 1 juta volt listrik. Video gerak lambat menunjukkan sambaran petir mampu menembus drone, kemudian melumpuhkan sistem robotik penerbangannya.

 

 

"Aliran listrik melewati drone, mengalir dari salah satu baling-baling dan keluar melalui kaki drone," demikian kata Enna Bartlett, yang menjabat sebagai koordinator digital di universitas tersebut. "Anehnya tidak terlihat tanda cacat di bagian luar drone itu, tapi tidak berarti bahwa bagian dalamnya tidak rusak; ternyata listrik mengalir melalui bagian drone yang paling ringkih dan membakar seluruh komponen elektronik yang sensitif."

 

Peneliti teknik listrik Vidyadhar Peesapati dan Richard Gardner, yang melakukan eksperimen untuk menjawab pertanyaan Scott, memperkirakan bahwa mereka akan mampu melindungi drone lainnya pada percobaan kedua. Mereka tidak memancangkan drone ke tanah seperti yang dilakukan sebelumnya, tetapi menambahkan sebilah batang penangkal petir yang terbuat dari pita tembaga yang berfungsi sebagai konduktor.

 

 

Meskipun pita tembaga dimaksudkan untuk menarik petir ke titik tertinggi dari drone, baling-balingnya terletak sama tinggi dengan arus listrik yang ditembakkan. Dalam percobaan itu, kerusakan drone lebih parah daripada percobaan pertama. Para peneliti mengatakan bahwa kuatnya sambaran petir membuat baling-baling seolah ditarik menjauh dari drone.

 

Enna Bartlett menulis dalam laporannya: "Dengan pemahaman kita mengenai apa yang terjadi pada pesawat terbang ketika berada dalam badai petir dan bagaimana melindunginya, pengetahuan ini dapat diterapkan pada teknologi drone untuk memastikan bahwa drone dan pilotnya tetap aman ketika terbang dalam kondisi cuaca buruk."

---

(sumber: Live Science | video: Tom Scott)

 

Bagaimana cara membakar gas alam tanpa melepaskan CO2 ke udara? Caranya adalah dengan menggunakan metode pembakaran khusus yang telah diteliti TU Wien selama bertahun-tahun, yakni: chemical looping combustion (CLC). Dalam proses ini, CO2 dapat diisolasi selama pembakaran tanpa harus menggunakan energi tambahan, yang berarti dapat disimpan. Ini mencegah CO2 dilepaskan ke atmosfer.

Metode ini berhasil diterapkan di fasilitas uji dengan daya 100 kW. Sebuah proyek penelitian internasional baru-baru ini berhasil mengembangkan teknologi yang mampu menciptakan semua kondisi yang diperlukan untuk membuat fasilitas uji dapat berfungsi secara penuh dengan kapasitas 10 MW.

Mengisolasi CO2 dari gas buang lainnya

Membakar gas alam jauh lebih ‘bersih’ daripada membakar minyak mentah atau batu bara. Namun, gas alam memiliki kekurangan, yakni menghasilkan CO2 selama pembakaran, yang memiliki efek merugikan bagi kondisi iklim dunia. CO2 biasanya merupakan bagian dari campuran gas buang, bersama dengan nitrogen, uap air dan zat lainnya. Dalam bentuk campuran ini, CO2 tidak dapat disimpan atau didaur ulang dengan baik.

"Di dalam fasilitas uji tempat kami bekerja, bagaimanapun, proses pembakaran pada dasarnya berbeda," Stefan Penthor dari Institut Teknik Kimia di TU Wien menjelaskan. "Dengan metode pembakaran kami, gas alam sama sekali tidak berhubungan dengan udara, karena kita membagi prosesnya ke dalam dua ruang terpisah."

 Butiran yang terbuat dari oksida logam beredar hilir-mudik di antara kedua bilik dan bertugas untuk mengangkut oksigen dari udara ke bahan bakar: "Kami memompa udara melalui satu ruangan, di mana partikel-partikel tersebut mengambil oksigen dan kemudian beralih ke ruang kedua, sebuah ruang dengan gas alam mengalir di dalamnya; di sinilah oksigen dilepaskan, sehingga terjadi pembakaran tanpa api, menghasilkan CO2 dan uap air," jelas Penthor.

Pemisahan pembakaran menjadi dua ruang berarti ada dua aliran gas buang terpisah yang harus diatur, yakni: udara dengan konsentrasi oksigen yang sudah berkurang yang dikeluarkan dari ruangan pertama, serta uap air dan CO2 yang keluar dari ruangan kedua. Uap air dapat dipisahkan dengan mudah, meninggalkan CO2 hampir murni, yang dapat disimpan atau digunakan dalam aplikasi teknis lainnya. "Penyimpanan CO2 berskala besar di bekas reservoir gas alam bawah tanah sangat signifikan artinya di masa depan,” kata Stefan Penthor. Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations International Panel for Climate Change/UN-IPCC) juga memandang penyimpanan CO2 di bawah tanah sebagai komponen penting dari setiap kebijakan mengenai perubahan iklim di masa depan. Hanya saja, CO2 hanya bisa disimpan jika sudah dipisahkan semurni mungkin - seperti yang dihasilkan oleh metode pembakaran CLC yang baru.

Dengan memisahkan kedua aliran gas buang tersebut, tidak ada lagi kebutuhan untuk membersihkan sisa-sisa CO2 dari gas buang, sehingga menghemat banyak energi. Terlepas dari semua ini, listrik dapat dihasilkan dengan cara biasa, sedangkan jumlah energi yang dilepaskan sama persis dengan yang dihasilkan saat membakar gas alam dengan cara konvensional.

Langkah Selanjutnya

Beberapa tahun telah berlalu sejak TU Wien pertama kali membuktikan keberhasilan metode pembakaran CLC di fasilitas uji. Tantangan besar yang harus dihadapi saat ini adalah: merancang ulang seluruh proses sehingga bisa diaplikasikan menjadi sebuah instalasi berskala besar yang juga terjangkau secara ekonomis. Seluruh desain fasilitas harus direvisi; selain itu, metode produksi baru untuk partikel oksida logam juga harus dikembangkan. "Untuk fasilitas yang besar, diperlukan sekian ton partikel oksida logam seperti ini. Kelayakan konsep ini secara ekonomi sangat bergantung pada kemampuan untuk menghasilkan partikel dengan mudah dan dengan tingkat kualitas yang cukup tinggi," kata Stefan Penthor.

SUCCESS (Sustainable Urban Carbon Capture: Engineering Soils for Climate Change: sebuah afiliasi riset yang melibatkan beberapa universitas di Inggris dan panel penasihat yang diambil dari unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta akademisi Inggris) telah melakukan berbagai proyek terkait isu-isu seperti ini selama tiga setengah tahun. TU Wien telah mengkoordinasikan proyek tersebut dengan mereka, melibatkan 16 perusahaan mitra dari seluruh Eropa. Kelompok kerjasama ini telah berhasil menyelesaikan semua pertanyaan teknis yang signifikan dalam percobaan tersebut.

Tim CLC TU Wien (dari kiri ke kanan): Karl Mayer, Robert Pachler, Stefan Penthor (duduk), Michael Stollhof, Stephan Piesenberger

 

Revisi desain fasilitas uji didasarkan pada dua paten teknologi fluidised bed yang dipegang oleh TU Wien. "Tujuan kami telah tercapai, yakni mengembangkan teknologi sedemikian rupa sehingga kemampuan fasilitas uji untuk bekerja di kisaran 10 MW dapat dimulai kapan saja, bahkan sejak hari ini" kata Stefan Penthor. Namun demikian, mestinya langkah lanjutan dari penelitian ini tidak dilakukan untuk kepentingan lembaga penelitian semata; yang dibutuhkan sekarang adalah investor swasta atau publik. Keberhasilan teknologi ini juga bergantung pada kemauan politik dan kondisi industri energi di masa depan. Selain itu, langkah selanjutnya juga penting karena merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan pengalaman yang diperlukan, agar bisa memanfaatkan teknologi tersebut dalam skala industri dan dalam jangka panjang.

Sementara itu, tim peneliti TU Wien telah menetapkan tujuan ilmiah selanjutnya, yaitu: "Kami ingin mengembangkan metode ini lebih jauh sehingga bisa membakar bukan hanya gas alam saja, tapi juga biomassa," kata Penthor. "Jika biomassa dibakar, kemudian CO2-nya dipisahkan, proses tersebut bukan hanya sekedar ‘tidak menambah jumlah CO2’, tapi malah akan mengurangi jumlah CO2 di udara. Dengan demikian, Anda bisa menghasilkan energi dan melakukan sesuatu yang baik bagi iklim global, dalam waktu yang bersamaan."

---

(sumber: TU Wien)

Pembangkit energi terbarukan di seluruh dunia pada tahun 2016 tumbuh sebesar 161 GW (gigawatt). Sebuah catatan rekor terbaru yang menjadikan kapasitas pembangkit energi terbarukan saat ini mampu melewati angka 2000 GW, demikian dirilis oleh Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency/IRENA).

 

Menurut catatan organisasi yang berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab ini, jumlah tersebut menunjukkan peningkatan dua kali lipat dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan terjadinya adopsi teknologi pembangkit energi angin, air, dan bahan bakar bebas emisi lainnya yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

China, Eropa dan Amerika Serikat saat ini menguasai 62 persen dari total kapasitas energi terbarukan di seluruh dunia, dengan China dan Amerika Serikat sebagai yang terbesar. Negara lainnya adalah Brasil, Jerman, Kanada dan India.

 

 

Asia merupakan kawasan yang paling pesat pertumbuhannya dalam hal memproduksi energi terbarukan, dengan peningkatan kapasitas sebesar 13,1 persen. Semetara itu, Afrika telah mengembangkan pembangkit dengan kapasitas sebesar 4,1 GW pada tahun 2016, meningkat 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya (2015).

 

Selain meningkatkan produksi listrik bebas karbon di dunia (yang menurut para ahli penting untuk menahan pemanasan global), gelombang energi terbarukan "memberikan banyak manfaat sosial-ekonomi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan manusia serta lingkungan," demikian diungkapkan oleh Adnan Amin, Direktur Jenderal IRENA.

 

Pertumbuhan kapasitas energi terbarukan sebesar 8,7 persen yang terjadi pada tahun 2016 merupakan sebuah lonjakan besar dibandingkan tahun sebelumnya. Tenaga surya merupakan sumber energi terbarukan terbesar, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai 71 GW, diikuti oleh tenaga angin sebesar 51 GW dan tenaga air sebesar 30 GW.

 

 

Untuk kawasan Asia, Afrika dan Amerika Selatan, Pembangkit Listrik Tenaga Air jauh lebih populer, sementara instalasi tenaga surya dan angin berkembang di wilayah dunia yang lebih luas, dengan China dan Amerika Serikat menempati peringkat pertama, disusul oeh India, Jepang dan Inggris. India, Jerman dan Brazil masing-masing menambah pemakaian energi terbarukan sebesar lebih dari 2 GW yang berasal dari tenaga angin.

 

Secara khusus, energi yang dihasilkan oleh turbin lepas pantai mengalami pertumbuhan tahunan terbesar kedua di tahun 2016. China mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat, dari 559 menjadi 1.480 megawatt. Turbin lepas pantai baru juga hadir di Jerman, Belanda, Inggris dan Amerika Serikat.

 

---

 

(sumber: Scientific American)

 

Anda mungkin tidak mengira bahwa salah satu di antara daftar profesi yang sebentar lagi bakal diambil alih oleh robot adalah: "seniman mural". Nyatanya, tahun ini armada drone penyemprot cat bisa jadi akan segera beraksi, berkat sebuah sistem yang mampu memobilisasi armada Quadcopters untuk mewarnai wajah kota. "Paint by Drone" adalah sebuah proyek dari Carlo Ratti Associati, sebuah perusahaan desain dan inovasi Italia yang berkantor di London dan Boston.

Meskipun ini bukan grafiti pertama yang dibuat dengan bantuan drone (seniman New York KATSU telah menggunakan quadcopters untuk merusak iklan Kendall Jenner dan menyebarkan tulisan anti-Trump), namun tingkat kecanggihannya tampaknya mampu mengungguli karya seni lainnya yang juga dibuat dengan bantuan drone. Inti dari peralatan canggih ini adalah "sistem manajemen pusat" yang mengatur empat drone sekaligus, dengan masing-masing drone melukis satu warna dalam skema CMYK. Untuk mural yang berukuran besar, jumlah drone dapat digandakan menjadi delapan, duabelas, atau lebih.

"Sistem manajemen pusat adalah perangkat lunak yang mengendalikan operasi drone secara real-time, mulai dari lukisan gambar sampai penerbangan, dengan menggunakan sistem pemantauan canggih yang secara tepat melacak posisi drone," demikian dijelaskan oleh Carlo Ratti, pendiri Carlo Ratti Associati. "Sistem ini merupakan unsur yang paling utama dalam pengembangan teknologinya, karena mampu membuat lukisan dengan presisi tinggi yang sebelumnya tidak mungkin terjadi."

Ratti tertarik pada eksperimen drone saat melakukan penelitian di MIT beberapa tahun yang lalu. "Drone menjadi benda yang semakin biasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Menurut Federal Aviation Administration, pada tahun 2020 kemungkinan akan ada 1,3 juta drone quadcopter yang terbang hanya di langit Amerika Serikat saja," katanya. "Dengan skenario yang berkembang seperti ini, gagasan untuk menggunakan drone dalam konteks yang berbeda telah kami pikirkan ketika kami mengerjakan beberapa proyek, baik di Laboratorium Senseable City MIT dan di kantor Carlo Ratti Associati."

Pada tahun 2013, Ratti dan laboratorium Senseable merilis "Skycall," sebuah proyek yang menggunakan quadcopter untuk mencari dan memandu pengunjung di sekitar kampus MIT ("termasuk mahasiswa Harvard yang tersesat," guraunya). "Paint By Drone" adalah langkah selanjutnya dari penelitian Ratti. Proyek ini akan memulai debutnya pada musim gugur tahun ini di dua lokasi di Eropa yang diusulkan: fasad kosong di perkotaan Turin, Italia, dan sebuah lokasi konstruksi di Berlin. Karya-karya seni yang akan dilukis dengan drone hingga saat ini masih belum dipastikan. Ratti masih memikirkan beberapa kemungkinan, apakah dia akan mengajak masyarakat umum untuk mengirimkan desainnya secara pribadi melalui sebuah aplikasi, atau mungkin mengajak seniman profesional membuat desain untuk kemudian digambar oleh drone.

Meskipun untuk pertama kalinya nanti drone Ratti harus berjuang melewati deretan perancah dan kompleks bangunan, dalam waktu dekat Ratti membayangkan bahwa drone-nya bisa bergerak jauh lebih cepat. "Selama beberapa bulan ke depan kami berencana untuk mengembangkan sistem plug and play yang memungkinkan drone bergerak dengan sangat cepat di permukaan vertikal manapun," katanya. "Bayangkan jika teknologi ini mampu menghadirkan karya seni publik dengan lebih mudah dan aman, baik pada bangunan-bangunan maupun infrastruktur di perkotaan. Tidakkah jalan raya, galeri, dan jembatan akan berubah menjadi elemen-elemen kota yang penuh warna?"

---

(sumber: CITYLAB)

 

Ahli kimia dan profesor dari Oregon State University, Mas Subramanian, sedang berkonsentrasi untuk mencari bahan eksotis yang bisa digunakan dalam elektronika. Tapi ajaibnya, ia justru dikenal karena menciptakan sesuatu yang sangat berbeda secara tidak sengaja, yakni warna yang disebut Biru YInMn atau YInMn Blue - pigmen warna biru yang pertama kali ditemukan sejak dua abad lalu. Saat ini, pigmen Subramanian menjadi inspirasi bagi krayon terbaru Crayola, produsen alat-alat tulis dan lukis yang sangat dikenal produk krayonnya.

Pada tahun 2009, seorang siswa di laboratorium Subramanian sedang mengambil kombinasi oksida dari itrium, indium, dan mangan dari tungku. Saat itulah terjadi hal yang mengagetkan Subramanian, substansi yang terbentuk ternyata berwarna biru cerah dan cemerlang. Subramanian pun langsung tahu bahwa dia telah menemukan sesuatu.

Ternyata substansi itu adalah pigmen. Pigmen warna biru pertama yang tercipta sejak tahun 1802, ketika ahli kimia Prancis Louis Jacques Thenard menemukan warna biru kobalt (walaupun sebenarnya warna tersebut sudah digunakan dalam tembikar Cina selama berabad-abad). Pigmen Subramanian, karena dibuat pada suhu tinggi, merupakan senyawa yang sangat stabil, yang berarti tidak bereaksi saat dipanaskan, didinginkan, atau dicampur dengan air ataupun asam. Pigmen ini mudah direproduksi, sehingga memiliki nilai produksi yang tinggi. Pigmen ini juga memantulkan panas, sehingga mampu mendinginkan temperatur benda atau ruangan dan menjaganya supaya tetap dingin. Subramanian, yang pernah bekerja di DuPont selama 22 tahun sebelum menjadi seorang profesor, dan memiliki 60 hak paten atas namanya, menyadari bahwa ini adalah penemuan yang luar biasa, dan segera mengajukan hak paten. 

“Ini merupakan sebuah kebetulan yang menyenangkan, karena kami sebenarnya tidak mencarinya," katanya. "Sebagian besar penemuan sains memang berasal dari hal-hal yang tak terduga." Dari penemuan ini, Subramanian mampu membuat lebih banyak pigmen, termasuk pigmen oranye, hijau, ungu, dan pirus atau turqoise, dengan menggunakan struktur kimia yang sama namun hanya mengganti unsur mangan pada senyawa YInMn dengan unsur lain seperti seng, besi, tembaga, dan titanium.

Subramanian mengatakan bahwa Crayola mendengar kabar tentang penemuannya ini; dan karena penemuan pigmen biru baru merupakan terobosan ilmiah, perusahaan tersebut tertarik untuk menggunakan warna biru tersebut untuk warna krayon mereka yang baru (terutama karena warna biru merupakan warna favorit sepanjang jaman). Tentu saja, YInMn Blue bukanlah nama yang menarik, jadi Crayola juga mengadakan kompetisi untuk memberi nama warna tersebut. Subramanian tampaknya cenderung memilih satu nama: Mas Blue.

Saat ini krayon berwarna Blue YInMn belum tersedia di pasaran. Pigmen tersebut masih menjalani pengujian yang dilakukan oleh Shepherd Color Company, yang mendapatkan lisensi dari Subramanian, dan perlu menjalani uji toksisitas tambahan untuk mendapatkan persetujuan FDA. Crayola memberitakan bahwa krayon baru bikinannya akan terinspirasi oleh rona warna tersebut. Subramanian mengungkapkan keinginannya, bahwa warna tersebut harus siap untuk diproduksi menjadi krayon anak-anak pada akhir tahun 2017 ini. Namun karena Shepherd Color Company juga membuat warna untuk berbagai macam benda, YInMn Blue nantinya tidak hanya akan menjadi warna krayon saja, tetapi juga akan diaplikasikan pada cat mobil, cat rumah, dan bahkan cat untuk kapal perang.

"Kreativitas dan inovasi merupakan bagian tak terpisahkan dari kesuksesan seorang ilmuwan," kata Subramanian. "Sebagai ahli kimia, kami ini sama seperti anak-anak; jadi saya juga merasakan kegembiraan ketika menambahkan warna baru ke dalam kotak krayon. Bagi saya, ini seperti menambahkan elemen baru ke tabel periodik. Kemungkinan untuk menciptakan material baru tidak akan ada habisnya. "

---

(sumber: CO.DESIGN)

Top Stories

Grid List

Secangkir teh sehari mampu menjauhkan kita dari penyakit demensia, terutama bagi orang yang secara genetik memiliki risiko terhadap penyakit tersebut, demikian dipaparkan dalam sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh Asisten Profesor Feng Lei dari Departemen Psikologi Kedokteran di Yong Loo Lin School of Medicine Universitas Nasional Singapura (National University of Singapore/NUS).

 

Studi longitudinal yang melibatkan 957 lansia beretnis China berusia 55 tahun atau lebih ini menemukan bahwa konsumsi teh secara teratur menurunkan risiko penurunan kemampuan kognitif pada lansia sebesar 50 persen, sementara pembawa gen APOE e4 yang secara genetik berisiko terkena penyakit Alzheimer mengalami penurunan risiko gangguan kognitif sebesar 86 persen.

 

 

Tim peneliti juga menemukan bahwa peran sebagai pelindung fungsi kognitif syaraf tidak hanya ada pada jenis teh tertentu, melainkan ada pada semua minuman yang diseduh dari daun teh, seperti teh hijau, teh hitam atau teh Oolong.

 

"Meskipun penelitian dilakukan pada lansia beretnis China, hasilnya juga bisa diterapkan pada etnis lain. Temuan kami memiliki implikasi penting untuk pencegahan demensia. Meskipun telah dilakukan uji coba untuk memproduksi obat berkualitas tinggi, tetapi terapi farmakologis yang efektif untuk gangguan neurokognitif seperti demensia belum ada yang terbukti efektif, lagipula strategi pencegahan demensia hingga saat ini masih jauh dari memuaskan. Teh adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Data dari penelitian kami menunjukkan bahwa gaya hidup sederhana dan murah seperti minum teh sehari-hari dapat mengurangi risiko seseorang terkena gangguan neurokognitif pada usia lanjut" demikian dijelaskan oleh Profesor Feng.

  

 

Feng menambahkan, "Berdasarkan pengetahuan terkini, manfaat mengkonsumsi teh dalam jangka panjang ini disebabkan oleh adanya senyawa bioaktif pada daun teh, seperti catechins, theaflavin, thearubigins dan L-theanine. Senyawa ini memiliki potensi anti-inflamasi dan antioksidan serta bioaktif lainnya, yang dapat melindungi otak dari kerusakan vaskular dan degenerasi syaraf. Pemahaman kita tentang mekanisme biologis secara rinci masih sangat terbatas, sehingga kita masih perlu melakukan lebih banyak penelitian untuk menemukan jawaban yang lebih pasti."

 

(Video tentang penelitian dapat dilihat pada tautan ini)

 

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan informasi konsumsi teh dari para peserta, yang merupakan lansia yang hidup bersama dengan masyarakat biasa (bukan lansia yang tinggal di panti), dari tahun 2003 sampai 2005. Setiap dua tahun sekali, secara berkala fungsi kognitif para lansia ini dipantau dengan menggunakan alat standar hingga tahun 2010. Informasi tentang gaya hidup, kondisi medis, kegiatan fisik dan sosial juga dikumpulkan. Faktor yang berpotensi untuk membiaskan data dikontrol secara hati-hati melalui model statistik untuk memastikan validitas temuan. Tim peneliti menerbitkan temuan mereka di jurnal ilmiah Journal of Nutrition, Health & Aging pada bulan Desember 2016.

 

Profesor Feng dan timnya berencana untuk memulai studi lebih lanjut dalam upaya untuk lebih memahami dampak pola makan orang Asia terhadap kesehatan kognitif mereka selama terjadinya proses penuaan. Mereka ingin menyelidiki efek senyawa bioaktif dalam teh dan mengujinya secara lebih ketat dengan menilai tanda-tanda biologis yang muncul pada para lansia tersebut, serta melakukan uji coba atau studi yang dikontrol secara acak, yakni dengan mengelompokkan peserta ke dalam grup-grup eksperimen dan mengontrol grup-grup tersebut secara acak demi menghindari data yang bias.

 

---

 

(sumber: National University Of Singapore | sumber gambar: The HealthSite & Shades of Earl Grey)

Sebuah produsen bir di Inggris menemukan cara untuk mengubah roti sisa menjadi bir. Hal ini dilakukannya setelah membaca sebuah hasil penelitian yang menemukan bahwa rumah tangga di Inggris membuang setidaknya 24 juta irisan roti dalam setahun. Minuman Toast Ale, yang diluncurkan pada bulan Januari 2016, memanfaatkan roti sisa yang masih segar (yang didapatkan dari toko roti, deli dan pembuat sandwich lainnya) untuk diolah menjadi sebotol bir.

Menurut Feedback, organisasi amal yang memfokuskan kegiatannya pada isu limbah makanan, tujuan dari proyek ini adalah untuk mengatasi "isu global limbah makanan", hingga limbah makanan tak ada lagi di dunia ini.

Tristram Stuart, pendiri dan pencipta ide Toast Ale, menceritakan: "Upaya saya untuk mengatasi masalah limbah makanan global telah mengantarkan saya ke seluruh dunia. Saya sedang berada di Brussels Beer Project ketika pertama kali mengetahui tentang proses pembuatan bir inovatif yang akan mengubah masalah global menjadi solusi yang lezat dan bisa diminum. Kami justru berharap bisa menghentikan bisnis ini. Ketika suatu hari tidak ada roti sisa lagi, pada hari itu lah Toast Ale berhenti beroperasi.”

Bir yang mulai dipasarkan secara online dengan harga £ 3 per botol mulai 28 Januari 2016 ini diproduksi oleh Hackney Brewery di London timur. Bir ini dibuat dengan menghancurkan roti sisa menjadi remah roti sebelum menyeduhnya dengan malted barley, hop, dan ragi untuk menciptakan rasa ale yang khas. Kalangan selebriti yang menggemari bir ini di antaranya adalah Jamie Oliver dan Hugh Fearnley-Whittingstall.

Semua keuntungan penjualan Toast Ale disumbangkan kepada Feedback, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengurangi separuh limbah pangan pada tahun 2030, setelah mereka merilis sebuah laporan yang mengungkapkan bahwa setiap tahun 15 juta ton makanan terbuang di Inggris.

Seorang juru bicara Toast Ale menambahkan bahwa, dari semua makanan, roti adalah produsen limbah terbanyak. Setiap tahun, setidaknya ada 24 juta iris roti dibuang dari rumah-rumah di Inggris. Jika dikalkulasi, jumlah roti, kue, dan makanan-makanan panggang yang tersimpan di rumah-rumah di Inggris akan mampu membuat 26 juta orang di seluruh dunia terhindar dari kekurangan gizi.

Jon Swain dari Hackney Brewery mengatakan: "Kami merasa mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung dalam perjuangan yang digagas Feedback untuk memerangi limbah makanan. Bagi kami para peramu bir, hal yang terpenting adalah bagaimana membuat bir yang enak rasanya, dan mampu bersaing dengan bir tradisional lainnya. Kami bekerja keras untuk membuat bir yang bukan sekedar bir biasa, tapi sesuatu yang bisa dinikmati dari waktu ke waktu, dan juga memiliki manfaat yang signifikan bagi orang lain."

---

(dirangkum dari berbagai sumber: The TelegraphToast Pale Ale, & Global Feedback)

Yara, sebuah perusahaan pupuk dan bahan kimia Norwegia mengumumkan bahwa perusahaannya telah membangun sebuah kapal bertenaga baterai yang akan mulai beroperasi pada tahun 2020. Kapal baru tersebut akan menggantikan 40.000 perjalanan truk diesel yang digunakan untuk mengangkut produk dari pabrik ke pelabuhan setiap tahunnya.

Kapal yang diberi nama Yara Birkeland ini adalah moda transportasi laut tanpa emisi yang dikembangkan Yara bersama perusahaan ekspedisi Kongsberg. Yara Birkeland akan beroperasi sebagai kapal berawak mulai tahun depan, mulai melayani perjalanan jarak jauh pada tahun 2019, dan dapat melakukan perjalanan mandiri tanpa awak (otonom) pada tahun 2020.

Berbagai jenis kendaraan otonom mulai bermunculan dalam percaturan bisnis kargo global. Di Singapura, salah satu pelabuhan tersibuk di dunia, truk-truk otonom mengangkut muatan antar terminal. Di Eropa, sedang berjalan sebuah proyek untuk memperkenalkan truk otonom yang akan mengangkut kargo dari pelabuhan melintasi perbatasan darat. Rolls-Royce juga sedang menginisiasi sebuah proyek yang mereka sebut sebagai "kapal cerdas", yang diproyeksikan akan mulai mengarungi perairan akhir dekade ini.

Kapal otonom meminimalkan risiko pembajakan dengan mengurangi jumlah awak kapal yang harus menghadapi bahaya di laut. Selain itu, pengiriman barang melalui laut umumnya menghasilkan karbon yang lebih sedikit dibandingkan dengan pengiriman melalui jalan darat dan udara. Dengan demikian, kapal bertenaga listrik Yara akan mampu mengurangi emisi dalam jumlah yang jauh lebih banyak.

Ruang Kontrol Yara

"Setiap hari, dibutuhkan lebih dari 100 perjalanan truk diesel untuk mengangkut produk dari pabrik Porsgrunn Yara ke pelabuhan di Brevik dan Larvik, pelabuhan tempat kami mengirimkan produk ke para pelanggan di seluruh dunia," kata CEO Yara Svein Tore Holsether dalam sebuah pernyataan resmi.

"Dengan kapal kontainer otonom baru berbasis tenaga baterai ini, kami memindahkan transportasi dari darat ke laut, dan dengan demikian akan mengurangi kebisingan dan polusi debu, memperbaiki keamanan jalan, serta mengurangi emisi NOx dan CO2," tambahnya. Perubahan ini diharapkan dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 678 ton per tahun. Menurut juru bicara Yara, listrik yang digunakan untuk mengisi baterai kapal ini hampir seluruhnya berasal dari pembangkit listrik tenaga air.

Meskipun merupakan negara produsen minyak utama, Norwegia paling antusias dalam mengadopsi teknologi mobil listrik, berkat perolehan pajak yang tinggi. Negara ini juga telah melakukan eksperimen pembuatan kapal bertenaga listrik untuk mengarungi fjord di wilayahnya.

Teknologi transportasi kargo yang semakin canggih juga membuat sektor logistik memiliki pemain baru. Sejauh in sektor tersebut masih dipimpin oleh raksasa retailer seperti Amazon, yang sedang merancang cara untuk mengendalikan semua aspek dalam pengiriman paketnya.

(dirangkum dari berbagai sumber: Phys, Quartz, & Kongsberg | video: Tandaseru TV)

Sebuah tim peneliti dari empat universitas di Amerika menyatakan bahwa kunci untuk mengurangi gas rumah kaca (greenhouse gases/GHG) yang berbahaya dalam jangka pendek lebih mungkin ditemukan di piring makan daripada di pompa bensin.

Tim yang dipimpin oleh peneliti Loma Linda University (LLU) Helen Harwatt, PhD, mengemukakan bahwa satu perubahan sederhana dalam kebiasaan makan orang Amerika akan berdampak besar terhadap lingkungan. Jika orang Amerika mau makan kacang sebagai pengganti daging sapi, mungkin pada tahun 2020 target penurunan GHG sudah akan tercapai sebesar 50%-75%.

Para peneliti menjelaskan bahwa sapi potong adalah makanan yang paling intensif dalam memproduksi GHG; dan bahwa produksi kacang-kacangan (termasuk kacang polong) menghasilkan seperempat dari jumlah GHG yang dihasilkan oleh produksi daging sapi.

"Berdasarkan temuan terbaru ini, kami berharap bahwa penelitian kami akan berguna untuk menunjukkan seberapa besar dampak yang bakal muncul akibat perubahan produksi pangan, dan mempromosikan perubahan tersebut dalam kebijakan mitigasi perubahan iklim," kata Harwatt.

Dalam makalah setebal 10 halaman yang dirilis pada 12 Mei 2017, Harwatt dan rekan-rekannya menekankan bahwa perubahan pola makan dalam rangka mitigasi perubahan iklim saat ini menjadi topik hangat di kalangan para pembuat kebijakan, akademisi dan anggota masyarakat pada umumnya. Makalah yang berjudul "Mengganti Daging Sapi Dengan Kacang Sebagai Kontribusi Terhadap Target Perubahan Iklim di Amerika Serikat” ini bisa didapatkan secara online.

Selain mengurangi GHG, Harwatt dan timnya - termasuk Joan Sabate, MD, DrPH; Gidon Eshel, PhD; mendiang Sam Soret, PhD; Dan William Ripple, PhD - menyimpulkan bahwa peralihan bahan makanan yang bersumber dari hewan ke tumbuhan dapat membantu mencegah kenaikan suhu global.

Joan Sabate, yang menjabat sebagai direktur eksekutif Pusat Nutrisi, Gaya Hidup Sehat dan Pencegahan Penyakit (Center for Nutrition, Healthy Lifestyle and Disease Prevention) di LLU School of Public Health, mengatakan bahwa temuannya cukup substansial. "Negara ini bisa memenuhi lebih dari separuh target pengurangan GHG-nya tanpa harus menetapkan standar baru pada industri mobil atau industri manufaktur," katanya.

Penelitian yang dilakukan ketika Harwatt menjabat sebagai peneliti nutrisi lingkungan di Universitas Loma Linda ini juga menemukan bahwa produksi daging sapi merupakan bisnis yang menggunakan lahan pertanian secara tidak efisien. Menggantikan daging sapi dengan kacang akan mengurangi penggunaan 42 persen lahan pertanian A.S. yang saat ini masih terus bertambah. Jika dikalkulasi, total lahan yang digunakan adalah sebesar 1,65 juta kilometer persegi atau lebih dari 400 juta hektar persegi, setara dengan 1,6 kali luas negara bagian California.

Harwatt menyadari bahwa saat ini, lebih dari sepertiga konsumen daging Amerika mulai membeli makanan pengganti daging, berupa produk nabati yang menyerupai daging dalam rasa dan teksturnya. Menurut Harwatt, tren tersebut menunjukkan bahwa daging yang bersumber dari hewan tidak lagi menjadi kebutuhan utama.

"Dengan menyadari berapa jumlah gas rumah kaca yang harus dikurangi untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim, apakah kita siap untuk makan daging tiruan yang tampilan maupun rasanya mirip dengan daging sapi, namun memiliki dampak yang jauh lebih rendah terhadap perubahan iklim?" dia bertanya. "Sepertinya kita perlu melakukan ini. Target pengurangan emisi gas rumah kaca tidak mungkin akan tercapai jika pola makan kita tidak berubah."

Bagaimana dengan Anda?

---

(sumber: Science Daily | sumber gambar: Pixabay)